Minggu, 29 Maret 2009

Menuju Masa Depan Cerah


Harapan orang akan keberhasilan hidup,
menjadi angan-angan yang ingin seegera menjadi kenyataan.

Banyak cara yang dilakukan orang menuju kesuksesan. Selama masih mempunyai keinginan untuk itu, apapun bisa dilakukan. Dalam hidup tentunya setiap orang punya keinginan yang menjadi cita-cita. Dahulu ketika masih kecil orang mengidam-idamkan sesuatu yang ingin diraih. Entah jadi presiden, dokter, insinyur dan sebagainya. Sebenarnya apa yang diharapkan itu adalah modal untuk meraih masa depan gemilang.

Saya jadi teringat sebuah lagu semangat hidup. Tentu pembaca juga tahu dengan lirik lagu laskar pelangi yang dinyanyikan group band kondang Nidji. Dalam liriknya, kalimat pertama berbunyi, mimpi adalah kunci untuk kita menakhlukkan dunia. Jika dipahami mungkin ada benarnya. Dahulu orang bermimpi untuk pergi ke bulan. Ketika itu banyak orang mengatakan mustahil orang dapat sampai ke bulan.

Bagi orang yang mau berpikir tentunya hal itu memang tidak mustahil dilakukan. Buktinya pada pertengahan abad ke 19, Neil Amstrong dari Amerika Serikat berhasil mendaratkan pesawatnya ke bulan. Sungguh itu suatu hal yang luar biasa pada waktu itu. Hal itu bisa dilakukan tentunya pertama ada keinginan untuk bisa kesana. Ketika keinginan itu meradang dalam benak pasti otak ini akan berpikir, bagaimana caranya untuk mewujudkannya?

Pertanyaan sederhana itu berusaha dicarikan solusinya. Dengan berbagai penelitian yang intensif, percobaan yang serius didukung oleh pakar-pakar teknologi berpengalaman, jadilah suatu alat untuk menuju bulan. Pesawat luar angkasa berhasil di buat dan didaratkan pertama kali dengan sukses.

Menilik hal tersebut, jika hidup kita ingin sukses janganlah putus asa. Rasa optimis itu perlu ditanamkan dalam benak kita. Kegagalan itu tidak ada dalam kamus saya. Kesuksaesan itulah yang menjadi tujuan hidupku. Kegagalan itu sejatinya jalan untuk menuju kesuksesan. Tentunya sebagai jalan agar kita selalu berusaha. Sesungguhnya orang sukses itu mempunyai watak dan perilaku yang positif. Biasakan hidup dengan perilaku seperti orang sukses. Mnfaatkanlah waktu kita untuk nsesuatu yang sekiranya bermanfaat.

Terkadang, manusia itu kalu ingin memperoleh sesuatu pengennya serba instan. Padahal kesuksesan itu tidaklah semudah yang dibayangkan. Raihlah sesuatu itu tentunya dengan usaha yang tekun dan sungguh-sunnguh. Berbagai hambatan, dan tantangan akan selalu menghadang. Janganlah patah arang tetaplah fokus terhadap apa yang akan kamu raih. Semisal pengen jadi pengusaha, dosen, peneliti, penulis, sastrawan, dokter bahkan bupati, gubernur atau presiden.

Kita prioritaskan apa yang ingin kita raih. Kemudian lakukanlan jalan untuk menuju kesana. Janganlah menyerah sebelum tujuan itu dapat tercapai. Usaha dibarengi dengan doa harus seimbang. Percayalah apa yang kamu lakukan itu adalah modal menuju sebuah kesuksesan hidup. Perbanyaklah rasa syukur kita terhadap yang kuasa, ikhlas menjalani hidup. Jangan banyak mengeluh terhadap keadaan.

Takdir orang itu memang beda- beda. Ketika lahir ada yang ganteng, jelek, cacat, dan sebagainya. Terkadang juga terlahir dalam keluarga miskin dan bahkan dari keluarga orang kaya. Itu semua adalah pemberian dari yang kuasa. Janganlah meratapi takdir. Bahwa derajat dan kehormatan seseorang itu tidak dinilai dari kekayaannya, tapi dinilai dari perilaku hidup dan usaha yang dilakukan.

Banyak orang sukses itu awalnya berasal dari keluarga miskin. Hal itu terjadi sebagaian besar karena mereka punya mental untuk pantang menyerah. Tahan banting terhadap keadaan. Mereka dididik oleh pengalaman. Sikap mawas diri juga menjadi bagian dalam hidup. Mereka punya semngat besar untuk membuat sejarah pada dirinya. Apapun dilakukan untuk mengejar impian tersebut.

Jadi jauhkanlah rasa minder dalam diri kamu. Berusahalah untuk optimis menjalani kehidupan ini. Pasang target jangka pendek danjangka panjang. Fokuskan tujuan kamu. Ingat, keberhasilan itu tergantung pada usaha pribadi. Orang lain hanyalah sebagai faktor lain untuk mendukung tujuan dan cita-cita besarmu.


Muhammad Noor Ahsin
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes
Bergiat di Komunitas Harmoni
Semarang

Tantangan Mengajar Bagi Calon Guru


Salah satu tugas Perguruan Tinggi (PT) berbasis pendidikan adalah mencetak calon guru. Di jawa tengah terdapat banyak institusi pendidikan pencetak calon guru. Seperti halnya Unnes, UNS, Unsoed, IKIP PGRI, IAIN walisongo, Stain Salatiga, dan beberapa institusi pendidikan lain, baik yang berada di bawah naungan Depdiknas atau Depag.

Beberapa institusi tersebut melahirkan calon pendidik yang nantinya akan menjadi pengajar di beberapa sekolah. Selama kuliah mahasiswa yang mengambil study pendidikan dibekali dengan berbagai disiplin ilmu sesuai jurusan yang sedang ditempuh. Beberapa keterampilan dan inovasi mengajar pun harus dipunyai seorang guru. Sehingga nantinya ketika lulus mereka benar- benar menjadi calon pendidik yang punya skill dan kreativitas tinggi dalam mengajar.

Untuk memberikan pengalaman mengajar bagi calon guru, mahasiswa studi pendidikan harus melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) ke sekolah-sekolah. Praktik ini merupakan mata kuliah wajib yang harus diambil oleh mahasiswa.

Unnes, sebagai salah satu institusi pendidikan, setiap tahun melaksanakan Program PPL bagi mahasiswa yang mengambil studi pendidikan. Bagi mahasiswa yang mengambil program S1, biasanya pengambilan jadwal PPL Tahun ini, waktu pelaksanaan PPL mahasiswa Unnes dilaksanakan pada tanggal 3 September-28 November. Kurang lebih selama tiga bulan mahasiswa tersebut berusaha mengaplikasikan secara langsung ilmu yang didapat di bangku kuliah.

Ketika pertama praktik mengajar di sekolah, beberapa hambatan dan juga tantangan hampir bisa dipastikan selalu ada. Praktik pengalaman lapangan adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh dalam semester-semester sebelumnya, sesuai dengan persyaratan yang telah diterapkan agar memperoleh pengalaman dan keterampilan dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di sekolah atau tempat latihan lainnya.

Kegiatan PPL meliputi praktik mengajar, praktik administrasi, praktik bimbin gan dan konseling serta kegiatan yang bersifat kokurikuler dan ekstra kurikuler yang berlaku di sekolah/ tempat latihan.

PPL berfungsi memberikan bekal kepada mahasiswa praktikan agar memiliki kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi social. PPL mempunyai sasaran agar mahasiswa praktikan memiliki seperangkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang menunjang tercapainya kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi social.

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan media bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan dasar profesi. Dalam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Praktik Pengalaman Lapangan diaplikasikan dalam bentuk praktik mengajar dan kegiatan edukasional lainnya di lembaga sekolah.

Berdasarkan cetusan Undang-undang profesi yang disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tanggal 6 Dersember tahun 2005 guru ditetapkan sebagai profesi. Dengan demikian pekerjaan guru selain harus mempunyai nilai tawar yang tinggi seperti profesi dokter dan professional lainnya, guru harus mempunyai kompetensi yang dapat diandalkan.

Praktik Pengalaman Lapangan yang dilakukan mahasiswa merupakan salah satu wadah agar mahasiswa mendapatkan pengalaman profesi yang dapat diandalkan. Dalam PPL mahasiswa akan dihadapkan pada kondisi riil aplikasi bidang keilmuan, seperti; kemampuan mengajar, kemampuan bersosialisasi dan bernegosiasi, dan kemampuan manajerial kependidikan lainnya.


Muhammad Noor Ahsin
Mahasiswa Unnes
Bergiat di Komunitas Harmoni
Semarang

Menyoal Intelektualitas Mahasiswa

Mulai minggu pertama tahun baru 2009 ini, kampus Unnes akan mengadakan hajat besar. Setelah menjalani masa libur hari tenang, mahasiswa Unnes wajib mengikuti rangkaian ujian semesteran yang menjadi agenda universitas. Sebagai mahasiswa, sudah semestinya kita belajar giat untuk meraih nilai yang bagus. Tentunya kita tidak menginginkan jika hasil ujian nanti kita mendapatkan prestasi akademik dengan IP Nasakom (nasib satu koma).

Sebagai mahasiswa yang katanya agen of change, atau disebut sebagai “kaptennya peradaban” belajar giat menjadi syarat mutlak yang harus dilakukan. Jangan sampai waktu kuliah yang singkat kita habiskan untuk hal yang kurang bermanfaat. Orang tua kita sudah banting tulang memeras keringat untuk mencerdaskan anaknya. Mereka tentu ingin memberikan bekal ilmu kepada kita untuk masa mendatang. Karena membekali ilmu dengan pendidikan di sebuah universitas merupakan investasi masa depan yang sangat berharga. Dengan prestasi akademik yang bagus, para orang tua berharap kelak kalau lulus, kita bisa sukses dan mudah mendapatkan pekerjaan.

Pertanyaannya, apakah nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang bagus bisa menjamin mahasiswa untuk sukses dan mudah mendapatkan pekerjaan? Tentunya tidak. Selain IPK yang bagus, banyak hal lain yang menjadi faktor kesuksesan seseorang. Selain cerdas secara intelektual (IQ) dengan perolehan nilai akademik bagus, kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) juga menjadi faktor penting kesuksesan hidup kita.

Disamping itu, perlu kiranya mahasiswa membekali diri dengan keterampilan khusus (Soft skill). Semisal ikut organisasi intra kampus seperti, HIMA, BEM, UKM atau ikut organisasi ekstra kampus. Berbagai keterampilan itu sedikit banyak kelak tentu akan sangat bermanfaat bagi kita. Mengingat, banyak berita yang menyebutkan bahwa lulusan perguruan tinggi malah kesulitan mencari pekerjaan. Membludaknya lulusan sarjana pertahun memang tidak sebanding dengan banyaknya lapangan pekerjaan yang tersedia. Yang kalah bersaing mencari pekerjaan akan tersingkir. Jika demikian, apakah mau jika kelak predikat “pengangguran intelektual” tersemat pada diri kita?

Uraian, di atas patut menjadi renungan bersama. Jika ingin sukses menjadi mahasiswa, kita harus punya target kesuksesan yang jelas pula. Hal itu tidak dapat diraih tanpa komitmen dan kerja keras pantang menyerah untuk menggapainya. Rasa malas, kadang seringkali muncul, itu wajar. Tapi kita harus melawannya. Berbagai tugas kuliah sedapat mungkin kita kerjakan dengan maksimal. Kadang, menunda- nunda tugas dan meyepelekan hal-hal kecil, bisa menjadi bumerang bagi kita.

Dampaknya, nilai di KHS kita bisa hancur, atau saya katakan tadi IP Nasakom. Hal itu pun bisa berakibat pada terbatasnya pengambilan jumlah SKS semester depan. Faktor seperti itulah yang menjadi penyebab mahasiswa lulus telat, bahkan di DO (drop out) kalau melampui batas maksimal 14 semester sesuai yang ditetapkan Universitas. Biar bagaimana pun, prestasi akademik dengan nilai IPK bagus itu penting. Karena itu menjadi satu indikator parameter keberhasilan mahasiswa. Jangan kecewakan orang tua kita dengan nihilnya prestasi selama kuliah. Lawan rasa malas. Mari teruslah belajar, berjuang, dan bertaqwa untuk menggapai kesuksesan masa depan yang lebih cerah. Hidup mahasiswa!!!


Muhammad Noor Ahsin
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes
Pembelajar di Komunitas Harmoni
Semarang.

Kamis, 12 Maret 2009

Perkelahian Pemikiran Versus Problematika



Dewasa ini, pergulatan manusia mencari solusi atas sebuah problematika sosial dalam meretas jalan peradaban, menuai berbagai tantangan dan berimplikasi besar terhadap paradigma pemikiran masyarakat. Manusia bisa dikatakan beradab jika mereka mempunyai sesuatu yang dapat mencerahkan bagi orang di sekelilingnya, entah dalam bentuk karya nyata ataupun berupa gagasan abstrak. Peradaban sangat berkaitan dengan gagasan intelektual berupa pemikiran-pemikiran yang menggugah orang dan mampu memberikan wacana publik serta dapat menelurkan ide kreatif berupa solusi atas berbagai permasalahan yang sedang mewabah di masyarakat.

Tidak hanya sekadar wacana berupa tradisi lisan saja. Namun, ciri sebuah komunitas intelektual ditandai dengan adanya karya dalam bentuk teks tulisan. Peningggalan berupa pemikiran dijabarkan secara gamblang melalui media tulisan. Ide-ide yang kita punya tidak hanya kita keluarkan dalam bentuk suara lisan yang mudah terlupakan apabila tidak direkam. Akan tetapi, ide tersebut kita ikat dengan tulisan. Dengan kata lain, berbagai ide kritis kita akan sesuatu harus kita abadikan dalam bentuk teks yang dapat kita wacanakan kepada segenap strata sosial masyarakat di segala bidang.

Budaya seperti itu hendaknya kita tumbuhkan dalam diri kita. Lebih-lebih bagi seorang yang ingin dikatakan sebagai bagian dari rezim peradaban. Entah itu pelajar, mahasiswa, dosen, profesor, para teknokrat, budayawan, dan sebagainya. Jaringan intelektual muda berbasis problematika perlu ditekankan. Kita tentu tahu, bahwa negara Indonesia yang multikultural ini tentunya mempunyai beragam permasalahan. Boleh jadi, rentetan permasalahn itu tentu saja tidak semua dapat terselesaikan dengan solusi yang tepat. Kepekaan dan daya kritis kita perlu dilatih. Sikap skeptis kita hendaknya selalu menjadi radar intelektualisme kita dalam menyerap dan memahami segala fenomena alam menyangkut hajat hidup orang banyak.

Realita di lapangan menunjukkan bahwa, sangat sedikit orang yang mempunyai kepedulian terhadap problematika sosial masyarakat. Bila ditilik lebih jauh, sikap individualis seseorang lebih besar daripada sikap sosialis. Jika asumsi publik mengenai hal itu benar, tentu saja fenomena itu menjadi duka kita bersama. Mengapa demikian? Hal itu tak lain akan menyebabkan berbagai masalah baru yang beredar di masyarakat.

Padahal, segala permasalahan yang ada tentunya tidak bisa diselesaikan dengan ide pemikiran dari satu “batok kepala”. Perlu adanya ruang diskusi yang terdiri dari berbagai macam pemikiran untuk menyelesaikan berjubel permasalahan yang ada. Kajian-kajian mengenai suatu persoalan yang dikemas dengan metode diskusi menjadi salah satu alternatif dalam membincangkan problematika publik. Dari hal itu, tentunya akan melahirkan sikap kritis kita terhadap suatu permasalahan. Pertukaran pemikiran yang penulis sebut sebagai “perkelahian pemikiran” antara orang satu dengan orang yang lain akan menumbuhkan budaya intelektual masyarakat menjadi hidup.

Dalam tataran budaya intelektual mahasiswa, sikap kritis terhadap sesuatu hal cenderung mengalami tren penurunan. Padahal mahasiswa merupakan bibit intelektual muda yang kelak menjadi tonggak dalam menggatikan kader militan bangsa yang peduli terhadap keadaan permasalahan negara. Jika mahasiswanya melempem secara intelektual tentu saja akan berimplikasi bagi kemandegan warisan budaya intelektual masyarakat kampus.

Mahasiswa yang katanya agen of change, tentunya dituntut untuk lebih peka terhadap keadaan di sekelilingnya. Dalam perjalanan waktu, perubahan dan perkembangan teknologi yang pesat disatu sisi memberikan banyak manfaat bagi manusia. Tapi dilihat dari sisi yang lain, hal itu bisa menjadi bumerang bagi kita apabila teknologi itu tidak tepat guna atau pun digunakan untuk sesuatu yang membahayakan banyak orang. Di tambah lagi ketika budaya barat membanjiri dermaga budaya bangsa. Jika tidak diantisipasi, bisa-bisa budaya barat akan menghegemoni budaya lokal bangsa yang jika dibiarkan maka benteng peradaban bangsa yang merupakan buah cipta, rasa dan karsa nenek moyang kita akan tersingkir.

Untuk itu, apakah kita termasuk menjadi bagian mahasiswa yang mandul secara intelektual? Jika tidak ingin dikatakan demikian, marilah kita tumbuhkan jiwa skeptis kita dengan mengasah logika berpikir kita dalam mengurai segala permasalahan sosial masyrakat. Jadi mahasiswa jangan hanya pintar omong doang. Tapi tunjukkan eksistensimu dengan mewarnai dinamika pergulatan pemikiran kampus. Budaya diskusi yang merupakan ciri kaum intelektual kampus harus diimbangi dengan budaya tulis menulis.

Dengan kemampuan tersebut, segala macam ide dapat kita goreskan dengan tinta diatas kertas. Gagasan –gagasan yang mengendap dalam otak harus dituangkan dalam bentuk mantra-mantra tekstual yang bernilai tinggi. Harapannya, jika mahasiswa atau pun masyarakat memiliki sikap kepedulian terhadap keadaan sekeliling, maka segala persoalan sedikit-demi sedikit dapat terkikis. Tidak hanya itu, gelombang wacana yang digembar-gemborkan melalui media tulisan dapat memperngarui pola pikir masyarakat ke arah yang lebih baik. Hal demikian apabila menjadi suatu kebiasaan maka akan memunculkan iklim pemikiran intelektual masyarakat kampus menjadi lebih bergairah, sehingga mampu menjadi pisau analisis dalam membedah permasalahan masyarakat, baik dalam lingkup lokal maupun nasional.


Muhammad Noor Ahsin
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes
Pegiat Komunitas Gelegar Institut
Semarang.

Perkelahian Pemikiran Versus Problematika

Dewasa ini, pergulatan manusia mencari solusi atas sebuah problematika sosial dalam meretas jalan peradaban, menuai berbagai tantangan dan berimplikasi besar terhadap paradigma pemikiran masyarakat. Manusia bisa dikatakan beradab jika mereka mempunyai sesuatu yang dapat mencerahkan bagi orang di sekelilingnya, entah dalam bentuk karya nyata ataupun berupa gagasan abstrak. Peradaban sangat berkaitan dengan gagasan intelektual berupa pemikiran-pemikiran yang menggugah orang dan mampu memberikan wacana publik serta dapat menelurkan ide kreatif berupa solusi atas berbagai permasalahan yang sedang mewabah di masyarakat.

Tidak hanya sekadar wacana berupa tradisi lisan saja. Namun, ciri sebuah komunitas intelektual ditandai dengan adanya karya dalam bentuk teks tulisan. Peningggalan berupa pemikiran dijabarkan secara gamblang melalui media tulisan. Ide-ide yang kita punya tidak hanya kita keluarkan dalam bentuk suara lisan yang mudah terlupakan apabila tidak direkam. Akan tetapi, ide tersebut kita ikat dengan tulisan. Dengan kata lain, berbagai ide kritis kita akan sesuatu harus kita abadikan dalam bentuk teks yang dapat kita wacanakan kepada segenap strata sosial masyarakat di segala bidang.

Budaya seperti itu hendaknya kita tumbuhkan dalam diri kita. Lebih-lebih bagi seorang yang ingin dikatakan sebagai bagian dari rezim peradaban. Entah itu pelajar, mahasiswa, dosen, profesor, para teknokrat, budayawan, dan sebagainya. Jaringan intelektual muda berbasis problematika perlu ditekankan. Kita tentu tahu, bahwa negara Indonesia yang multikultural ini tentunya mempunyai beragam permasalahan. Boleh jadi, rentetan permasalahn itu tentu saja tidak semua dapat terselesaikan dengan solusi yang tepat. Kepekaan dan daya kritis kita perlu dilatih. Sikap skeptis kita hendaknya selalu menjadi radar intelektualisme kita dalam menyerap dan memahami segala fenomena alam menyangkut hajat hidup orang banyak.

Realita di lapangan menunjukkan bahwa, sangat sedikit orang yang mempunyai kepedulian terhadap problematika sosial masyarakat. Bila ditilik lebih jauh, sikap individualis seseorang lebih besar daripada sikap sosialis. Jika asumsi publik mengenai hal itu benar, tentu saja fenomena itu menjadi duka kita bersama. Mengapa demikian? Hal itu tak lain akan menyebabkan berbagai masalah baru yang beredar di masyarakat.

Padahal, segala permasalahan yang ada tentunya tidak bisa diselesaikan dengan ide pemikiran dari satu “batok kepala”. Perlu adanya ruang diskusi yang terdiri dari berbagai macam pemikiran untuk menyelesaikan berjubel permasalahan yang ada. Kajian-kajian mengenai suatu persoalan yang dikemas dengan metode diskusi menjadi salah satu alternatif dalam membincangkan problematika publik. Dari hal itu, tentunya akan melahirkan sikap kritis kita terhadap suatu permasalahan. Pertukaran pemikiran yang penulis sebut sebagai “perkelahian pemikiran” antara orang satu dengan orang yang lain akan menumbuhkan budaya intelektual masyarakat menjadi hidup.

Dalam tataran budaya intelektual mahasiswa, sikap kritis terhadap sesuatu hal cenderung mengalami tren penurunan. Padahal mahasiswa merupakan bibit intelektual muda yang kelak menjadi tonggak dalam menggatikan kader militan bangsa yang peduli terhadap keadaan permasalahan negara. Jika mahasiswanya melempem secara intelektual tentu saja akan berimplikasi bagi kemandegan warisan budaya intelektual masyarakat kampus.

Mahasiswa yang katanya agen of change, tentunya dituntut untuk lebih peka terhadap keadaan di sekelilingnya. Dalam perjalanan waktu, perubahan dan perkembangan teknologi yang pesat disatu sisi memberikan banyak manfaat bagi manusia. Tapi dilihat dari sisi yang lain, hal itu bisa menjadi bumerang bagi kita apabila teknologi itu tidak tepat guna atau pun digunakan untuk sesuatu yang membahayakan banyak orang. Di tambah lagi ketika budaya barat membanjiri dermaga budaya bangsa. Jika tidak diantisipasi, bisa-bisa budaya barat akan menghegemoni budaya lokal bangsa yang jika dibiarkan maka benteng peradaban bangsa yang merupakan buah cipta, rasa dan karsa nenek moyang kita akan tersingkir.

Untuk itu, apakah kita termasuk menjadi bagian mahasiswa yang mandul secara intelektual? Jika tidak ingin dikatakan demikian, marilah kita tumbuhkan jiwa skeptis kita dengan mengasah logika berpikir kita dalam mengurai segala permasalahan sosial masyrakat. Jadi mahasiswa jangan hanya pintar omong doang. Tapi tunjukkan eksistensimu dengan mewarnai dinamika pergulatan pemikiran kampus. Budaya diskusi yang merupakan ciri kaum intelektual kampus harus diimbangi dengan budaya tulis menulis.

Dengan kemampuan tersebut, segala macam ide dapat kita goreskan dengan tinta diatas kertas. Gagasan –gagasan yang mengendap dalam otak harus dituangkan dalam bentuk mantra-mantra tekstual yang bernilai tinggi. Harapannya, jika mahasiswa atau pun masyarakat memiliki sikap kepedulian terhadap keadaan sekeliling, maka segala persoalan sedikit-demi sedikit dapat terkikis. Tidak hanya itu, gelombang wacana yang digembar-gemborkan melalui media tulisan dapat memperngarui pola pikir masyarakat ke arah yang lebih baik. Hal demikian apabila menjadi suatu kebiasaan maka akan memunculkan iklim pemikiran intelektual masyarakat kampus menjadi lebih bergairah, sehingga mampu menjadi pisau analisis dalam membedah permasalahan masyarakat, baik dalam lingkup lokal maupun nasional.


Muhammad Noor Ahsin
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes
Pegiat Komunitas Gelegar Institut
Semarang.

Kamis, 12 Februari 2009

Baiat Pengurus dan Santri Ponpes Durrotu Aswaja

Abah Kyai Masyrokhan melantik pengurus putra dan putri Pondok Pesantren Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah (Aswaja) pada Kamis, (8/1) bertempat di aula Putra Pondok, Sekaran Gunungpati Semarang. Dalam kesempatan itu, semua santri putra dan putri yang baru juga di baiat dan disumpah oleh Pengasuh.

Pelantikan itu merupakan sebagai tindak lanjut atas terpilihnya lurah putri yang baru, Mbak Nur Zubaidah. Setelah terpilih, sang lurah putri baru yang menggantikan lurah putri lama Mb Musta’anah, langsung membentuk kabinet kepengurusan Pondok putri periode 2009-2011. Beliau mengumumkan formasi pengurus baru. Sebelumnya, dalam kabinet pengurus putra ada rapat besar untuk resuffle. Langkah ini ditempuh karena ada beberapa pengurus yang tidak aktif. Ada yang karena semester tua adapula yang punya kesibukan di luar kampus. Beberapa pengurus yang tidak aktif menyebabkan roda kepengurusan menjadi agak terhambat. Sehingga perlu ada pengganti bagi pengurus yang tidak aktif.

Pada moment tersebut, sebelum melantik, abah kyai memberikan mauidhoh khasanah. Dengan maksud untuk memberikan arahan agar pengurus mampu melaksanakan tugas dan amanah yang diemban dengan baik. Abah berpesan, supaya Pengurus bisa kompak dan ada koordinasi antara pengurus putra dan pengurus putri. Untuk mencapai itu, Abah menyarankan dan berpesan supaya pengurus selalu mengadakan rapat tiap tengah bulan. Dengan kata lain, koordinasi hendaknya dilakukan minimal dua kali setiap bulannya.

Dalam pelantikan tersebut, penyerahan Kartu Tanda Santri (KTS) secara simbolis diberikan oleh abah kepada kang Muzakki, santri Rembang. Berikut petikannya “Demi Allah, aku rela Allah Sebagai Tuhanku dan islam sebagai agamaku, Muhammad sebagai Nabi dan utusan bagiku, ka’bah sebagai kiblatku, Al-qur’an sebagai pedomanku, orang-orang iman sebagai saudaraku, Pengasuh sebagai pembimbingku, Pengurus Ponpes Durrotu Aswaja sebagai penetapan Janjiku, Alumni Sebagai Penuntunku, Tata tertib sebagai panutan yang baik, yang mulia, dan amanahhya sebagai penyuksesku yang indah dengan hak yang kekal abadi.”

Penyerahan itu disertai doa supaya ke depan santri bisa menjadi orang yang benar-benar taat pada segala peraturan yang sudah ditetapkan. Sehingga, harapannya kelak akan tercetak santri unggulan yang berilmu dan berkarakter yang mampu menjadi pioner dalam kehidupan bermasyarakat.


Muhammad Noor Ahsin

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes,
Koordinator Komunitas Gelegar Institut,
Semarang