Jumat, 05 Desember 2008
Komentar Siswa Terhadap PPL Unnes
Hemas Isphari Putri
Dulu awalnya siswa-siswa sini pada gak suka apabila diajar oleh mahasiswa PPL. pertama diajar oleh mahasiswa PPL kita kadang kurang seius dan cuek. Maklum saja mereka baru saja praktek mengajar untuk menjadi calon guru yang profesional. Tapi lama-kelamaan kami pun suka dengan keberadaan mahasiswa PPL yang praktik mengajar di kelas. setelah kenal dan mau pepisahan kita malah gak rela ditinngal. Akhirnya sadar kalau dulu kita salah.
Menjelang acara perpisahan, kami pun sangat gembira dengan acara pentas seni yang diadakan mahasiswa PPL Unnes. Bakat dan kreativitas siswa-siswi yang ada di SMK N 9 Semarang paling tidak bisa tersalurkan dengan adanya kegiatan itu. Buktinya antusiasme siswa untuk pentas pun besar.
Tentunya, banyak sekolah di Semarang, bahkan di lingkup wilayah Jawa Tengah yang digunakan praktek mengajar oleh mahasiswa kependidikan dari berbagai Universitas. Harapannya, jika di sekolah sahabat abu-abuers sedang ada mahasiswa yang sedang praktek mengajar tolong supaya dihargai. Karena merekalah kelak calon guru yang akan mencerdaskan bangsa kita.
OLEH. MUHAMMAD NOOR AHSIN
Kamis, 04 Desember 2008
Ajang kreativitas Seni dan Budaya SMK N 9 Semarang
“Momen perpisahan itu, kami hanya bisa mempersembahkan Syair lagu dan beragam pentas kreativitas sesuai dengan bakat yang kami punya.”
Itulah salah satu pernyataan siswi SMK N 9 Semarang, saat penyelenggaraan Pentas Seni, yang diadakan mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Unnes dalam rangka perpisahan, setelah tiga bulan selesai magang mengajar.
Acara tersebut diselenggarakan pada hari Sabtu, (29/11) bertempat di gedung aula sekolah dengan mengangkat tema "One Day Full Of Love". Tentu sahabat abu-abuers tahu dengan makna tema tersebut, yaitu sehari penuh cinta. Kata love di sini bukan makna cinta secara umum, tapi lebih ke makna secara khusus. Artinya segala aktivitas itu akan sangat bermakna jika dilandasi cinta dan ketulusan. Jadi, segala kreativitas seni dan budaya nanti yang ditampilkan dalam acara hendaknya dijiwai dengan rasa cinta, ketulusan hati, dan penjiwaan. Agar bakat terpendam yang ada dalam siswa semakin semakin terasah.
Pada hari itu suasana sekolah sungguh sangat ramai sekali. Seluruh siswa-siswi berbondong-bondong memenuhi Aula sekolah untuk melihat acara Pentas Seni. Sahabat abu-abuers SMK N 9 Semarang tentunya merasa senang dan terhibur dengan acara tersebut. "Sebelumnya memang hanya kali ini mahasiswa PPL yang mengadakan perpisahan dengan meyelenggarakan Pentas Seni di sekolah ini, kami sangat senang." Tutur Endang Setiawati, Siswi kelas II AK 2.
Menurut Aji Mandayaratna, selaku Ketua panitia, acara tersebut bertujuan untuk mengembangkan bakat seni dan kreativitas siswa-siswi SMK N 9 Semarang. Sebelum mengadakan pentas seni kami melihat dan mengamati bahwa bakat seni serta kreativitas siswi di sini sangat beragam. Sehingga pada momen perpisahan tersebut kami sepakat dengan teman-teman ingin menyelenggarakan pentas seni sebagai wadah dan ajang kreativitas seni dan budaya bagi siswa-siswi di sini. Untuk menonjolkan budaya, seluruh panitia mengenakan Dresscode batik. Panitia pun dengan bangga memakainya, Karena batik merupakan salah satu budaya jawa yang harus dilestarikan.
Respon dari sahabat Abu-abuers SMK N 9 Semarang terhadap acara pentas seni pun terasa sangat baik. Sebelum pelaksanaan acara, tercatat ada sebanyak 20 tampilan yang sudah mendaftar ke pihak panitia. Meliputi pentas Band, karaoke, puisi, solo vokal, dance, rebana, drama, dan sebagainya. Kebanyakan yang akan pentas adalah siswa-siswi sekolah sendiri. Dominasi yang akan tampil adalah para siswi. Itu wajar karena 95 % murid yang sekolah di sini adalah perempuan. Selain dari siswa-siswi juga ada beberapa bintang tamu yang sengaja didatangkan dari luar untuk menambah semarak acara.
Walaupun masih usia muda, kemampuan siswa-siswi pentas di atas panggung tidak kalah dengan yang sudah profesional. Semisal group band Blooostains, Band tersebut personelnya terdiri dari empat siswi. Mereka memainkan lagu untuk menghibur dan memberi kenangan perpisahan kepada mahasiswa PPL Unnes.
Sebetulnya yang akan tampil memang banyak. Namun karena keterbatasan waktu, jadi tidak semua siswa bisa unjuk gigi mempersembahkan kreativitas di atas panggung. Tapi yang jelas siswa-siswi terhibur, dan acara tersebut memberikan banyak kenangan bagi guru, siswa, dan mahasiwa PPL Unnes.
Menurut Ibu Dra. Surtikanti, selaku Waka kesiswaaan, secara umum saya menilai positif dengan acara pentas seni yang diadakan mahasiswa PPL Unnes, hanya saja ada beberapa kekurangan dalam penyelenggaraannya, tapi saya kira sich maklum saja. Tuturnya. Beliau berpesan bahwa meskipun sudah tidak praktik mengajar dan akan segera berpisah, harapannya komunikasi dan silaturahmi dengan pihak sekolah tetap terjalin.
Di akhir acara siswa-siswi pun menangis dan terharu dengan perpisahan itu. Biar bagaimanapun, setiap perjumpaan pasti juga ada perpisahan. Seluruh siswa, guru, dan mahasiswa PPL Unnes saling berjabatan tangan untuk berpisah.
Oleh. Muhammad Noor Ahsin
Koordinator Mahasiswa PPL Unnes
di SMKN 9 Semarang
Ajang kreativitas Seni dan Budaya
“Momen perpisahan itu, kami hanya bisa mempersembahkan Syair lagu dan beragam pentas kreativitas sesuai dengan bakat yang kami punya.”
Itulah salah satu pernyataan siswi SMK N 9 Semarang, saat penyelenggaraan Pentas Seni, yang diadakan mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Unnes dalam rangka perpisahan, setelah tiga bulan selesai magang mengajar.
Acara tersebut diselenggarakan pada hari Sabtu, (29/11) bertempat di gedung aula sekolah dengan mengangkat tema "One Day Full Of Love". Tentu sahabat abu-abuers tahu dengan makna tema tersebut, yaitu sehari penuh cinta. Kata love di sini bukan makna cinta secara umum, tapi lebih ke makna secara khusus. Artinya segala aktivitas itu akan sangat bermakna jika dilandasi cinta dan ketulusan. Jadi, segala kreativitas seni dan budaya nanti yang ditampilkan dalam acara hendaknya dijiwai dengan rasa cinta, ketulusan hati, dan penjiwaan. Agar bakat terpendam yang ada dalam siswa semakin semakin terasah.
Pada hari itu suasana sekolah sungguh sangat ramai sekali. Seluruh siswa-siswi berbondong-bondong memenuhi Aula sekolah untuk melihat acara Pentas Seni. Sahabat abu-abuers SMK N 9 Semarang tentunya merasa senang dan terhibur dengan acara tersebut. "Sebelumnya memang hanya kali ini mahasiswa PPL yang mengadakan perpisahan dengan meyelenggarakan Pentas Seni di sekolah ini, kami sangat senang." Tutur Endang Setiawati, Siswi kelas II AK 2.
Menurut Aji Mandayaratna, selaku Ketua panitia, acara tersebut bertujuan untuk mengembangkan bakat seni dan kreativitas siswa-siswi SMK N 9 Semarang. Sebelum mengadakan pentas seni kami melihat dan mengamati bahwa bakat seni serta kreativitas siswi di sini sangat beragam. Sehingga pada momen perpisahan tersebut kami sepakat dengan teman-teman ingin menyelenggarakan pentas seni sebagai wadah dan ajang kreativitas seni dan budaya bagi siswa-siswi di sini. Untuk menonjolkan budaya, seluruh panitia mengenakan Dresscode batik. Panitia pun dengan bangga memakainya, Karena batik merupakan salah satu budaya jawa yang harus dilestarikan.
.
Respon dari sahabat Abu-abuers SMK N 9 Semarang terhadap acara pentas seni pun terasa sangat baik. Sebelum pelaksanaan acara, tercatat ada sebanyak 20 tampilan yang sudah mendaftar ke pihak panitia. Meliputi pentas Band, karaoke, puisi, solo vokal, dance, rebana, drama, dan sebagainya. Kebanyakan yang akan pentas adalah siswa-siswi sekolah sendiri. Dominasi yang akan tampil adalah para siswi. Itu wajar karena 95 % murid yang sekolah di sini adalah perempuan. Selain dari siswa-siswi juga ada beberapa bintang tamu yang sengaja didatangkan dari luar untuk menambah semarak acara.
Walaupun masih usia muda, kemampuan siswa-siswi pentas di atas panggung tidak kalah dengan yang sudah profesional. Semisal group band Blooostains, Band tersebut personelnya terdiri dari empat siswi. Mereka memainkan lagu untuk menghibur dan memberi kenangan perpisahan kepada mahasiswa PPL Unnes.
Sebetulnya yang akan tampil memang banyak. Namun karena keterbatasan waktu, jadi tidak semua siswa bisa unjuk gigi mempersembahkan kreativitas di atas panggung. Tapi yang jelas siswa-siswi terhibur, dan acara tersebut memberikan banyak kenangan bagi guru, siswa, dan mahasiwa PPL Unnes.
Menurut Ibu Dra. Surtikanti, selaku Waka kesiswaaan, secara umum saya menilai positif dengan acara pentas seni yang diadakan mahasiswa PPL Unnes, hanya saja ada beberapa kekurangan dalam penyelenggaraannya, tapi saya kira sich maklum saja. Tuturnya. Beliau berpesan bahwa meskipun sudah tidak praktik mengajar dan akan segera berpisah, harapannya komunikasi dan silaturahmi dengan pihak sekolah tetap terjalin.
Di akhir acara siswa-siswi pun menangis dan terharu dengan perpisahan itu. Biar bagaimanapun, setiap perjumpaan pasti juga ada perpisahan. Seluruh siswa, guru, dan mahasiswa PPL Unnes saling berjabatan tangan untuk berpisah.
Oleh. Muhammad Noor Ahsin
Koordinator Mahasiswa PPL Unnes
di SMK N 9 Semarang
Selasa, 23 September 2008
Nuansa Ilmiah di Ponpes Aswaja
Setelah menjalani aktivitas rutin ngaji bandungan, lalu-lalang santri banyak terlihat di jalan menuju lorong belakang. Walaupun hari itu libur, karena kuliah juga sedang tidak ada dan masa semester genap unnes juga sudah habis, beberapa kange terlihat banyak yang beraktivitas. Ketika aku masuk kamar ali bin abi tholib, suasana asri terasa di hatiku. Suasana kamar itu bersih, hijau, dan menarik pandanganku. Tidak seperti biasanya, ada nuansa baru yang kurasakan. Maklum saja hari-hari sebelumnya, panitia haflah sedang mengadakan perlombaan kebersihan masing-masing kamar. Kerja keras untuk membersihkan kamar dengan senag hati dikerjakan. Akhirnya, Jerih payah yang dilakukan anggota kamar pun terbalas. Panitia mengumunkan kamar ali menjadi juara ketiga, setelah kamar abu nawas dan kamar umar bin khotob. Aku pun ikut merasa senang. Karena dahulu aku juga anggota kamar ali.
Setelah masuk kedalam, kulihat seorang santri dengan pakaian kotak-kotak warna hijau tengah asyik dengan sebuah laptop merk acer. Disampinnya ku lihat tumpukan vcd yang baru saja di beri cover. Aku pun mendekatinya, dengan sedikit nyantai, aku pun melontarkan sebuah sapaan,
“ lagi lapo kang yasin, kok sampeyan sibuk banget,”
” iki lagi persiapan pameran sesok neng unisula,” jawabnya lirih.
Selasa pagi itu, dia memang sedang persiapan untuk pameran PKMK dalam acara PIMNAS di unisula. Ya, yasin yusuf kepanjangan namanya. Dia adalah mahasiswa jurusan pendidikan matematika semester delapan yang juga ketua UKM Penelitian Unnes. Jika kuamati dia adalah santri pondok yang berprestasi. Bayangkan saja, dua kali berturut-turut dia lolos pimnas. Tahun kemarin dia ikut memperkuat tim unnes di universitas lampung (Unila). Sekarang dia juga lolos ke pimnas di unisula yang akan diadakan besok. Mungkin dia tadi masih persiapan untuk event besok. Sebelunnya empat proposal PKMnya juga lolos seleksi dan didanai Dikti. Yang masing-masing didanai sebesar enam juta.
Selain dia, di pondokku juga ada banyak orang berbakat. Tahun 2008 ini saja ada enam orang yang akan memperkuat Tim Pimnas Unnes. Sebut saja, ali murtadho dari jurusan matematika, m badrus siroj dari jurusan pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia, kemarin, empat PKMnya juga berhasil disetujui Dikti untuk didanai yang salah satunya lolos Pimnas. Selai itu ada mbak umi aulia, si ti ahsinul A dan nbak lina soimatun.
Pada hari Sabtu (11/07) kang yasin dan timnya sangat senang. Betapa tidak. Karyanya yang akan berlaga di Pimnas masuk Koran Suara Merdeka. Umi yang jadi ketua tim diwawancari oleh wartawan. Dengan modal itu dia yakin nanti akan bisa meraih emas di pimnas. Karena dia diuntungkan dengan publikasi gratis yang dilakukan oleh suara merdeka.
Kalau melihat anak berbakat lainnya selain dia juga banyak. Ada Muntohar dari kamar F yang kemarin jadi MAPRES 1 Fakultas Ilmu social. Dan juga kelompoknya mba Risti kemarin yang jadi juara 1 bidang seni tingkat universitas. Walaupun basic santri itu biasanya hanya pintar seputar agama. Kalau di aswaja memang beda. Walaupun terbentur banyak kegiatan kampus dan kegiatan pondok yang ketat. Nyatanya dengan fadhol Allah santri Aswaja bisa berprestasi di di kampus dan di pondok.
Selain kegiatan ilmiah, dibidang kegiatan organisasi juga banya. Hamper disetiap UKM dan Lembaga kemahasiswaan di Unnes, seperti Hima, bem Fakultas maupun Bem universitas, bisa dipastikan ada anak pondok. Berbagai jabatan strategis juga kebanyakan bisa diraih oleh anak pondok. Kalau disebutkan satu-satu mungkin nggak muat.
Dari modal tersebut, relasi dengan pihak luar dan dalam kampus tetap tercover. Informasi apapun juga mudah menyebar.
Di Aswaja. Kalau ku ibaratkan adalah sebuah miniature masyarakat. Didalamnya kita dapat menemukan berbagai macam karakter orang yang unik. Kebanyakan mereka mempunyai kelebihan yang berbeda. Sehingga kalai ada kegiatan atau yang lai-lain bisa saling mengisi dan saling melengkapi.
Joglo Unnes. 15 Juli 2008