Selasa, 13 Desember 2011

Membangun Industri Kreatif Melalui Kampus


DI beberapa negara maju, keberadaan industri kreatif menunjukkan tren perkembangan yang positif. Kemajuan itu dapat terjadi, salah satunya, karena ditunjang oleh sumber daya manusia (SDM) yang kreatif dan mampu melahirkan terobosan inovasi di berbagai bidang industri.

Kini, di era persaingan industri dan pasar bebas, pamor industri berbasis kreativitas semakin populer. Bangsa Indonesia jika tidak punya planning jangka pendek atau jangka panjang yang jelas, tentu akan ketinggalan dengan negara-negara maju.

Dewasa ini, perguruan-perguruan tinggi dunia kenamaan pun getol membuat terobosan serta memotivasi mahasiswanya untuk mengembangkan skill, inovasi, dan kreativitas dalam berwirausaha dan menciptakan lapangan pekerjaan di ranah industri kreatif. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Perguruan-perguruan tinggi mana saja yang getol mengarahkan mahasiswanya untuk menggeluti bidang tersebut?

Prospek Industri Kreatif

Tak banyak perguruan tinggi Indonesia yang menaruh perhatian besar mengarahkan dan memotivasi mahasiswanya untuk menggeluti dan mempelajari bidang industri berbasis kreativitas dan inovasi tersebut. Padahal prospek kerja di bidang ini menganga lebar dan sangat potensial.

Meski demikian, industri kreatif di Indonesia makin merebut perhatian karena kontribusinya yang kian besar pada kue ekonomi. Pada awal tahun 2009 kemarin, pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan tahun 2009 sebagai tonggak berkembangnya industri kreatif di Indonesia. Pemerintah pun membuat cetak biru industri kreatif 2009-2025.

Dokumen ini berupaya menyediakan peta jalan bagi pengembangan industri kreatif. Pemerintah menggolongkan industri kreatif ke dalam 14 subsektor industri. Yakni, periklanan, kerajinan, seni pertunjukan, film, video dan fotografi, televisi dan radio, arsitektur, desain, musik, layanan komputer, fashion, pasar barang seni, permainan interaktif, penerbitan dan percetakan, serta penelitian (riset) dan pengembangan.

Industri kreatif bisa didefinisikan sebagai industri yang muncul dari kreativitas, keahlian dan bakat individual. Industri ini mempunyai potensi menciptakan kekayaan dan membuka lapangan kerja bagi lulusan perguruan tinggi lewat aktivitas dan eksploitasi kekayaan intelektual.

Barangkali kita bisa belajar dari negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Jerman, Inggris, China dan sebagainya yang lebih dahulu menyadari bahwa telah terjadi pergeseran evolusi dari ekonomi pertanian menuju ekonomi industri lalu mengarah ke ekonomi informasi, kemudian munuju gerakan ekonomi kreatif.

Mereka sudah tidak lagi mengandalkan supremasi di bidang ekonomi informasi, tetapi mereka mulai mengandalkan supremasi sumber daya manusia (SDM) yang kreatif dan inovatif, untuk menciptakan industri kreatif.

Mahasiswa Kreatif


Dalam etika percaturan global, setiap individu dituntut untuk berkompetisi secara fair dalam mendapatkan apa yang diinginkan. Negara yang belum siap mengatur strategi tentu akan tersingkir di panggung kompetisi. Menurut Gary Hamel, Sesungguhnya kompetisi yang terjadi saat ini tidak lagi antarnegara atau antarbangsa melainkan antarrezim inovasi.

Gagasan atau mimpi membangun industri kreatif di Indonesia melalui perguruan tinggi atau kampus kiranya bukan angan-angan yang mustahil. Gagasan tersebut tentunya dapat terjadi jika didukung para stakeholder terkait.

Dukungan dan perhatian dari pemerintah pun dinilai sangat penting untuk merealisasikan gagasan tersebut. Misalnya kegiatan seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Dikti yang telah bergulir lama meliputi PKM penelitian, rancang bangun teknologi, kewirausahaan dan sebagainya hendaknya perlu dioptimalkan agar mahasiswa semakin kreatif dan dan inovatif menciptakan hal-hal baru.

Pihak perguruan tinggi pun punya andil besar mengarahkan mahasiswanya selalu kreatif dan punya inovasi dalam menciptakan gagasan yang dapat diarahkan menuju pengembangan industri kreatif, misal mengeluarkan kebijakan-kebijakan tertentu berkaitan dengan upaya mendukung program kewirausahaan mahasiswa untuk mencipatakan industri kreatif.

Dengan menciptakan kebijakan yang prokewirausahaan dan mendukung kreativitas mahasiswa tentu diharapkan akan tercipta atmosfer yang baik bagi pengembangan kreativitas dan inovasi mahasiswa dalam menciptakan usaha atau industri kreatif.

Dengan dukungan berbagai pihak dan planning yang jelas, semoga ke depan upaya membangun industri kreatif melalui kampus bisa terwujud, dan dapat bermanfaat bagi mahasiswa ketika mereka sudah lulus dari kampus. (24)


(Tulisan di atas pernh dimuat di koran Suara Merdeka pada Sabtu, 10 Desember 2011).


—Muhammad Noor Ahsin SPd,
mantan aktivis pers mahasiswa Unnes, pendidik dan peneliti sosial di Madrasah Aliyah NU TBS Kudus.

Senin, 28 November 2011

Pendidikan Karakter Melalui Teater


KUDUS-Beberapa siswa kelas XI-C (Bahasa 1) melakukan pentas teater di ruang multi media, lantai 3 gedung utara MA NU TBS Kudus. Mereka mementaskan teater dengan judul “Maafkan Aku Guru” yang dipentaskan baru-baru ini . Naskah teks teater dibuat sendiri dan disutradarai langsung oleh M. Syaifun Nasir, selaku siswa kelas XI-C MA TBS.

Sebenarnya pentas ini merupakan tugas akhir semester mata pelajaran sastra, bagi kelas XI Bahasa. Yaitu tugas praktik pelajaran Sastra Indonesia. Sebelumya mereka diberi penjelasan tentang materi pementasan tetater atau drama. Selain itu siswa juga sudah manyaksikan contoh video pemantasan drama dan sebagainya.

Selain kelas XI-C, penampilan teater juga dilakukan oleh kelas XI-D (bahasa 2). Dalam satu kelas dibagi menjadi empat kelompok. Sehingga, karena ada dua kelas, jadi semua yang tampil ada 8 kelompok. Tiap kelompok berjumlah sekitar 10 orang. Dalam satu kelompok ada yang jadi pengarang naskah, sutradara, pemain atau aktor, seksi artistik, perlengkapan, dan sebagainya.

Harapan dari tugas ini siswa akan mendapatkan pengalaman langsung dalam bermain teater atau drama. Praktik langsung itu dirasa sangat penting. Karena dengan praktik mereka lebih memahami dan merasa mampu mengaplikasikan ilmu sastra yang diperoleh.
Salah satu siswa yang telah mementaskan naskah tetaet menyatakan, “Ada kesan menyenangkan dan menyedihkan yang saya alami ketika bermain teater. Dengan bermain teater dapat menggugah perasaan kita dalam menyelami arti hidup. Dan melatih kepekaan perasaan kita terhadap sesama” Kata M. Nailul Fahmi, salah satu pemain drama, kelas XI-C MA NU TBS.

Pendidikan Karakter

Karya sastra berupa naskah teater dapat membuat penulis dan pembaca dekat dengan kehidupan. Naskah teater yang dipentaskan dapat pula melatih kepekaan perasaan, melatih rasa simpati dan empati terhadap sesama. Sehingga bermain teater merupakan salah satu alternatif mananamkan pendidikan karakter kepada generasi bangsa (para pelajar) yang dewasa ini dinilai sangat penting.

Melalui karya sastra sering diketahui keadaan, cuplikan-cuplikan kehidupan masyarakat seperti dialami, dicermati, ditangkap, dan direka oleh pengarang. Bahkan, seringkali sebuah suasana tertentu dapat lebih dihayati dengan membaca dan mengapresiasi sebuah cerpen, novel atau sebiji sajak, atau mementaskan naskah teater daripada membaca suatu laporan penelitian yang ilmiah.

Pendidikan sastra yang merupakan ilmu humaniora harus terus diupayakan oleh guru bahasa Indonesia di sekolah. Karena ilmu sastra berperan sangat besar menanamkan nilai-nilai investasi moral masa depan dan melatih pendidikan karakter, mengingat sastra itu berbicara tentang manusia dan kemanusiaan.

(Tulisan di atas pernah dimuat di Suara Muria Suara Merdeka, di rubrik Jurnalisme Warga pada Senin, 4 Desember 20011).

Oleh Muhammad Noor Ahsin,
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia
MA NU TBS, kelurahan Kajeksan, Kudus.

Jumat, 25 November 2011

Kholil dan Yasin Juara Karya Ilmiah


Kudus-Siswa Madrasah Aliyah NU TBS Kudus berhasil meraih juara II lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang diadakan Himpunan Mahasiswa (HIMA) Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes Semarang pada Sabtu, (19/11) 2011. Untuk juara 1 diraih oleh SMA 1 Kendal, sedangkan juara 3 diraih oleh SMA 5 Semarang.
Tim karya ilmiah MA NU TBS terdiri dari dua orang. Pertama M. Kholilur Rohman Sebagai Ketua Tim, dan Yasin Hakim sebagai anggota. Mereka membuat KIR dengan Judul, “Sanggar Sampah Kreatif Upaya Generasi Muda dalam Mengolah Limbah Sampah keluarga menjadi barang yang inovatif dan bernilai Ekonomis.”
Ide pembuatan karya ilmiah itu dilatarbelakangi oleh masih banyaknya sampah yang belum tertangani secara baik di masyarakat. Kholil mengatakan, “Pemuda yang notabene sebagai penerus bangsa, hendaknya dapat mengolah dan memanfaatkan sampah keluarga menjadi barang yang inovatif dan bernilai ekonomis.” Kata Kholil.
Sampah anorganik bisa dibuat berbagai macam kerajinan inovatif, sedangkan sampah organik bisa diolah menjadi pupuk kompos. Gambaran singkat tentang kegiatan “Sanggar Kreatif Sampah” adalah mengumpulkan limbah sampah hasil rumah tangga, kemudia menyeleksi sampah tersebut dan dioleh menjadi berbagai macam kerajinan yang kreatif. Pendistribusian hasil kerajinan itu pun salah satunya dengan membuat distro sampah yang di dalamnya dijual barang kerajinan dari sampah.
Prestasi tersebut merupakan buah dari kerja keras dan pembinaan KIR yang konsisten di MA NU TBS. “Semoga prestasi ini dapat memacu siswa lainnya, agar terus belajar dan berupaya untuk memberikan solusi atas segala permasalahan yang ada di masyarakat.” Tutur Bapak Ali Mahsun, S.Ag Selaku Wakil kepala MA NU TBS bidang kesiswaan.

Oleh Muhammad Noor Ahsin, S.Pd,
Pembina KIR MA NU TBS.

Pelatihan Menjahit di Balai Desa Klumpit


KUDUS-Malam hari bukan menjadi penghalang bagi warga desa klumpit untuk mengikuti pelatihan menjahit yang di fasilitasi oleh UPT BLK Dinsosnakertrans Kudus. Pelatihan tersebut dilaksanakan setiap malam hari, terhitung mulai tanggal 1-30 Nopember 2011 di Aula balai desa Klumpit, kecamatan Gebog Kudus.

Pelatihan ini bersifat MTU (Mobile Training Unit) yaitu pelatihan yang dilaksanakan di luar UPT BLK sehingga memudahkan warga masyarakat yang terkendala dengan jarak dan transportasi untuk bisa tetap mengikuti pelatihan dikarenakan para petugas pendamping dari BLK yang siap datang mendampingi di lokasi pelatihan.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada UPT BLK yang telah memfasilitasi pelatihan menjahit ini. Dengan pelatihan ini, saya dapa ilmu, tmemiliki keterampilan, dan bertambah banyak teman.” Kata Indah, peserta pelatihan menjahit selaku warga Klumpit.

Diharapkan dengan bekal ilmu yang didapat selama mengikuti pelatihan, para peserta pelatihan bisa lebih terampil terlebih dengan sarana yang informasinya akan diberikan pasca pelatihan akan membantu alumni agar bisa digunakan untuk keperluan pribadi terlebih bisa menjadikan profesi bagi alumni pelatihan.

Senin, 14 November 2011

Biografi Perjalanan Hidup Soe Hok Gie


Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.


Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra.

Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu?

Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.

Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam.

Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.

Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.

Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.

Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.


Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.

Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.

Makam soe Hok Gie
24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”

Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Tahun depan Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production akan meluncurkan film berjudul “Gie” yang akan diperankan oleh Nicholas Saputra, Sita Nursanti, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Thomas Nawilis. Saat ini sudah memasuki tahap pasca produksi.
Catatan Seorang Demonstran


John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.
Kata Kata Soe Hok Gie
• Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
• Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
• Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
• Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
• Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
• Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
• Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
• Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
• Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
• Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…
• Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
• Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
• Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.
• To be a human is to be destroyed.
• Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
• Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
• I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
• Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
• Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.
• Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.
• Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Referensi :
- http://prasetyaade.blogspot.com/2006/12/presiden-soekarno-presiden-pertama.html
- http://yulian.firdaus.or.id/2004/12/16/soe-hok-gie/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Soe_Hok_Gie
- http://dasonly.blogspot.com/2009/05/soe-hok-gie-dalam-kata-kata.html

Persiapan Pentas Teater MA NU TBS

Beberapa siswa kelas XI D melakukan latihan pentas teater pada hari Selasa, 15 November 2011 di ruang multi media lantai III MA NU TBS Kudus. Mereka berkumpul tiap kelompoknya masing-masing untuk membahas persiapan pentas teater.

Dalam satu kelas saya bagi menjadi empat kelompok. Tiap kelompok berjumlah sekitar 10 orang. Dalam satu kelompok ada yang jadi sutradara, pemain, seksi perlengkapan dan sebagainya. Beberapa siswa yang jadi pemain naskah drama ada yang sedang berlatih vokal, dialog, gerakan tubuh ketika pentas dan lain-lain. Tampak dari mereka sangat menikmati latihan tersebut.

Sebenarnya pentas ini merupakan tugas akhir semester mata pelajaran sastra. Yaitu tugas praktik. Sebelumya mereka saya beri penjelasan tentang materi pementasan drama. Selain itu manyaksikan contoh video pemantasan drama dan sebagainya.

Harapan dari tugas ini siswa akan mendapatkan pengalaman langsung dalam bermain teater atau drama. Praktik langsung itu dirasa sangat penting. Karena dengan praktik mereka lebih memahami dan merasa mampu mengaplikasikan ilmu sastra yang diperoleh.

Pementasan awal untuk kelas XI D akan dilaksanakan pada hari Selasa, 22 November 2011. pada hari selasa nanti kelompok yang akan pentas yaitu kelompok 1 dan kelompk 2. kelompok satu di sutradarai oleh Faiq Zamzami. Sedangkan kelompok 2 disutrasdarai oleh yahya Abdul Hanif.
Untuk kelompok 3 dan kelompok 4 rencananya akan dilaksanakan pada hari Kamis, 24 November 2011. kelompok 3 disutradarai oleh Sirrul Wafa. Sedangkan kelompok 4 disutradarai oleh Abidirouf Asmawi.


Oleh Muhammad Noor Ahsin