Minggu, 11 Maret 2012

Tradisi Tebokan dan Asal Usul Jenang Kudus

Dari Kejahuan tampak Mbah Dempok Soponyono memimpin rombongan para pengirab jenang dengan berkuda. Cucu Mbah Dempok dan dua tokoh Kudus, Sunan Kudus dan Syekh Jangkung (Saridin), menyertainya sembari bercakap-cakap dan menyapa warga. Di belakangnya, rombongan para pembawa jenang yang dibentuk menjadi gunungan, miniatur Menara Kudus, dan masjid. Sebagian lagi membawa jenang-jenang yang ditaruh dalam tebok atau tampah.


Kemudian menyusul visualisasi proses pembuatan jenang, ada yang membawa linggis (entong panjang seperti dayung sampan), kawah (wajan besar), kalo (sejenis tampah dari niru), ember, dan parutan.. Pada zaman Mbah Dempok, jenang yang diproduksi itu dikenal sebagai jenang bubur gamping karena terbuat dari tepung beras, garam, dan santan kelapa.

Begitulah sekilas prosesi Bancakan (selamatan/kenduri) Jenang atau Kirab Tebokan di Desa Kaliputu, Kudus, yang dilaksanakan pada hari Selasa 7 Desember 2010. Kirab itu merupakan salah satu wujud syukur atas berkah yang diterima warga Desa Kaliputu dari hasil memproduksi jenang.

Kirab Tebokan merupakan salah satu bentuk pelestarian tradisi dan sejarah pembuatan jenang. Hal itu tidak terlepas dari kisah Mbah Dempok dan cucunya. Konon, ketika Mbah Dempok Soponyono sedang bermain burung dara di tepi Sungai Kaliputu, cucunya tercebur dan hanyut. Meski tertolong, cucu Mbah Dempok diganggu Banaspati, makhluk halus berambut api.

Sunan Kudus menyimpulkan cucu Mbah Dempok telah tiada, tetapi Syekh Jangkung menyatakan cucu Mbah Dempok mati suri. Untuk membangunkannya, Syekh Jangkung meminta ibu-ibu membuat jenang bubur gamping. Mitos itulah yang melatarbelakangi berkembangnya industri jenang Kudus. Mitos itu pulalah yang menginspirasi ibu-ibu Desa Kaliputu bekerja di industri jenang kudus.

Di Desa Kaliputu terdapat 48 industri jenang skala besar maupun kecil. Jenang Kudus Mubarok yang berada di lain desa pun cikal bakal industrinya berangkat dari Desa Kaliputu dan berkembang menjadi yang produsen jenang kudus yang terbesar di kabupaten kudus. Setiap industri jenang di desa tersebut menyerap 15-50 tenaga kerja. Setidaknya ada sekitar 960 warga yang bekerja di sektor industri jenang dari total jumlah penduduk di Desa Kaliputu 2.094 orang.

Jenang merupakan ekonomi unggulan Desa Kaliputu sekaligus Kudus. Melalui industri jenang inilah setiap hari asap dapur warga selalu mengepul.Oleh karena itu, supaya kisah jenang diketahui lintas generasi di Kudus, Suyadi menambahkan, Kirab Tebokan akan dilakukan terus setiap tahun dengan harapan generasi berikutnya tidak akan malu bekerja sebagai pembuat jenang serta mau melestarikan makanan khas Kudus itu.

[+/-] Baca Selengkapnya...

Tradisi Tebokan dan Asal Usul Jenang Kudus

Dari Kejahuan tampak Mbah Dempok Soponyono memimpin rombongan para pengirab jenang dengan berkuda. Cucu Mbah Dempok dan dua tokoh Kudus, Sunan Kudus dan Syekh Jangkung (Saridin), menyertainya sembari bercakap-cakap dan menyapa warga. Di belakangnya, rombongan para pembawa jenang yang dibentuk menjadi gunungan, miniatur Menara Kudus, dan masjid. Sebagian lagi membawa jenang-jenang yang ditaruh dalam tebok atau tampah.

Kemudian menyusul visualisasi proses pembuatan jenang, ada yang membawa linggis (entong panjang seperti dayung sampan), kawah (wajan besar), kalo (sejenis tampah dari niru), ember, dan parutan.. Pada zaman Mbah Dempok, jenang yang diproduksi itu dikenal sebagai jenang bubur gamping karena terbuat dari tepung beras, garam, dan santan kelapa.

Begitulah sekilas prosesi Bancakan (selamatan/kenduri) Jenang atau Kirab Tebokan di Desa Kaliputu, Kudus, yang dilaksanakan pada hari Selasa 7 Desember 2010. Kirab itu merupakan salah satu wujud syukur atas berkah yang diterima warga Desa Kaliputu dari hasil memproduksi jenang.

Kirab Tebokan merupakan salah satu bentuk pelestarian tradisi dan sejarah pembuatan jenang. Hal itu tidak terlepas dari kisah Mbah Dempok dan cucunya. Konon, ketika Mbah Dempok Soponyono sedang bermain burung dara di tepi Sungai Kaliputu, cucunya tercebur dan hanyut. Meski tertolong, cucu Mbah Dempok diganggu Banaspati, makhluk halus berambut api.

Sunan Kudus menyimpulkan cucu Mbah Dempok telah tiada, tetapi Syekh Jangkung menyatakan cucu Mbah Dempok mati suri. Untuk membangunkannya, Syekh Jangkung meminta ibu-ibu membuat jenang bubur gamping. Mitos itulah yang melatarbelakangi berkembangnya industri jenang Kudus. Mitos itu pulalah yang menginspirasi ibu-ibu Desa Kaliputu bekerja di industri jenang kudus.

Di Desa Kaliputu terdapat 48 industri jenang skala besar maupun kecil. Jenang Kudus Mubarok yang berada di lain desa pun cikal bakal industrinya berangkat dari Desa Kaliputu dan berkembang menjadi yang produsen jenang kudus yang terbesar di kabupaten kudus. Setiap industri jenang di desa tersebut menyerap 15-50 tenaga kerja. Setidaknya ada sekitar 960 warga yang bekerja di sektor industri jenang dari total jumlah penduduk di Desa Kaliputu 2.094 orang.

Jenang merupakan ekonomi unggulan Desa Kaliputu sekaligus Kudus. Melalui industri jenang inilah setiap hari asap dapur warga selalu mengepul.Oleh karena itu, supaya kisah jenang diketahui lintas generasi di Kudus, Suyadi menambahkan, Kirab Tebokan akan dilakukan terus setiap tahun dengan harapan generasi berikutnya tidak akan malu bekerja sebagai pembuat jenang serta mau melestarikan makanan khas Kudus itu.

[+/-] Baca Selengkapnya...

Sabtu, 04 Februari 2012

Kembangkan Kreativitas Melalui Lomba Mading



Dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad SAW, PP IPNU MA NU TBS mengadakan beberapa rangkaian acara, diantaranya adalah kegiatan pengajian maulid Nabi dan lomba mading (Majalah dinding) di halaman sekolah, Sabtu (4/2). Peserta pengajian peringatan maulid Nabi tersebut sebagian besar adalah para siswa dari MTs dan siswa MA TBS. Sedangkan peserta lomba mading adalah siswa kelas X dan XI MA NU TBS Kudus.

Dalam kegiatan pengajian tersebut, yang memberikan dan mengisi Mauidhoh Khasanah adalah Romo KH. Syafiq Nas’an, selaku guru MA NU TBS yang juga sebagai ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Kudus.

Sebelum kelahiran nabi Muhammad, bangsa Quraish adalah orang jahiliyah. Sebagian masyarakatnya akhlaknya buruk. “ketika Nabi Muhammad dilahirkan, tugas Nabi yaitu menyempurnakan Akhlak.” Kata KH. Syafiq Nas’an yang beralamat di Bareng Jekulo Kudus.
“Begitu dengan seorang pendidik atau guru, agar bisa digugu dan ditiru, guru harus memiliki Akhlak yang baik.” Tambah beliau. Ketika pendidik memiliki akhlak dan moral yang baik, diharapkan para murid juga memiliki akhlak yang baik, sehingga kelak diharapkan para murid juga menjadi orang yang berilmu dan berakhlak mulia.

Mengembangkan Kreativitas

Di hari yang sama, PP IPNU MA NU TBS juga mengadakan lomba mading. Mading dibuat oleh siswa kelas X dan XI sebelum hari Sabtu. Dan pada hari Sabtu pagi sebelum pengajian, semua hasil mading harus dikumpulkan kepada panitia. Pengumpulan hasil mading diletakkan di atas kursi di teras kelas gedung selatan MA NU TBS Kudus. Sehingga setelah pengajian selesai, pada hari Sabtu tersebut, semua mading hasil kreativitas para siswa bisa disaksikan dan diapresiasi oleh banyak siswa dan oleh Bapak-bapak guru.

“Tujuan diadakan lomba mading adalah untuk menyemarakkan acara maulid nabi, mengembangkan kreativitas para siswa di bidang tulis menulis, dan menumbuhkan kekompakan pada tiap-tiap kelas,” Tutur Umar Falah, selaku panitia. Umar Falah yang juga koordinator departemen 7 K menambahkan bahwa pembuatan mading dibuat oleh para siswa di tiap-tiap kelas. dengan lomba mading, para siswa di masing-masing kelas bisa saling bekerja sama dalam membuat mading. Sehingga kekompakan kreativitas dan kekompakan siswa tiap kelas diharapkan bisa berkembang menjadi positif.

Setelah dilakukan penjurian oleh Juri, dengan berbagai kriteria penilaian mading seperti penilaian sisi kreativitas, isi tulisan, rubrikasi, kombinasi warna, seni, layout dan beberapa pertimbangan lainnya, ditetapkan bahwa juara pertama mading adalah tim dari kelas XI-A (IPA 1). Sedangkan juara 2 dan juara 3 masing-masing direbut oleh kelas X-B dan kelas XI-D (Bahasa 2).

(Tulisan di atas pernah dimuat di koran Suara Merdeka rubrik jurnalisme warga, Senin, 6 Februari 2012).

(Oleh M. Noor Ahsin, S.Pd., Guru Bahasa dan Sastra Indonesia di MA NU TBS Kudus).

[+/-] Baca Selengkapnya...

Selasa, 13 Desember 2011

Membangun Industri Kreatif Melalui Kampus


DI beberapa negara maju, keberadaan industri kreatif menunjukkan tren perkembangan yang positif. Kemajuan itu dapat terjadi, salah satunya, karena ditunjang oleh sumber daya manusia (SDM) yang kreatif dan mampu melahirkan terobosan inovasi di berbagai bidang industri.

Kini, di era persaingan industri dan pasar bebas, pamor industri berbasis kreativitas semakin populer. Bangsa Indonesia jika tidak punya planning jangka pendek atau jangka panjang yang jelas, tentu akan ketinggalan dengan negara-negara maju.

Dewasa ini, perguruan-perguruan tinggi dunia kenamaan pun getol membuat terobosan serta memotivasi mahasiswanya untuk mengembangkan skill, inovasi, dan kreativitas dalam berwirausaha dan menciptakan lapangan pekerjaan di ranah industri kreatif. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Perguruan-perguruan tinggi mana saja yang getol mengarahkan mahasiswanya untuk menggeluti bidang tersebut?

Prospek Industri Kreatif

Tak banyak perguruan tinggi Indonesia yang menaruh perhatian besar mengarahkan dan memotivasi mahasiswanya untuk menggeluti dan mempelajari bidang industri berbasis kreativitas dan inovasi tersebut. Padahal prospek kerja di bidang ini menganga lebar dan sangat potensial.

Meski demikian, industri kreatif di Indonesia makin merebut perhatian karena kontribusinya yang kian besar pada kue ekonomi. Pada awal tahun 2009 kemarin, pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan tahun 2009 sebagai tonggak berkembangnya industri kreatif di Indonesia. Pemerintah pun membuat cetak biru industri kreatif 2009-2025.

Dokumen ini berupaya menyediakan peta jalan bagi pengembangan industri kreatif. Pemerintah menggolongkan industri kreatif ke dalam 14 subsektor industri. Yakni, periklanan, kerajinan, seni pertunjukan, film, video dan fotografi, televisi dan radio, arsitektur, desain, musik, layanan komputer, fashion, pasar barang seni, permainan interaktif, penerbitan dan percetakan, serta penelitian (riset) dan pengembangan.

Industri kreatif bisa didefinisikan sebagai industri yang muncul dari kreativitas, keahlian dan bakat individual. Industri ini mempunyai potensi menciptakan kekayaan dan membuka lapangan kerja bagi lulusan perguruan tinggi lewat aktivitas dan eksploitasi kekayaan intelektual.

Barangkali kita bisa belajar dari negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Jerman, Inggris, China dan sebagainya yang lebih dahulu menyadari bahwa telah terjadi pergeseran evolusi dari ekonomi pertanian menuju ekonomi industri lalu mengarah ke ekonomi informasi, kemudian munuju gerakan ekonomi kreatif.

Mereka sudah tidak lagi mengandalkan supremasi di bidang ekonomi informasi, tetapi mereka mulai mengandalkan supremasi sumber daya manusia (SDM) yang kreatif dan inovatif, untuk menciptakan industri kreatif.

Mahasiswa Kreatif


Dalam etika percaturan global, setiap individu dituntut untuk berkompetisi secara fair dalam mendapatkan apa yang diinginkan. Negara yang belum siap mengatur strategi tentu akan tersingkir di panggung kompetisi. Menurut Gary Hamel, Sesungguhnya kompetisi yang terjadi saat ini tidak lagi antarnegara atau antarbangsa melainkan antarrezim inovasi.

Gagasan atau mimpi membangun industri kreatif di Indonesia melalui perguruan tinggi atau kampus kiranya bukan angan-angan yang mustahil. Gagasan tersebut tentunya dapat terjadi jika didukung para stakeholder terkait.

Dukungan dan perhatian dari pemerintah pun dinilai sangat penting untuk merealisasikan gagasan tersebut. Misalnya kegiatan seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Dikti yang telah bergulir lama meliputi PKM penelitian, rancang bangun teknologi, kewirausahaan dan sebagainya hendaknya perlu dioptimalkan agar mahasiswa semakin kreatif dan dan inovatif menciptakan hal-hal baru.

Pihak perguruan tinggi pun punya andil besar mengarahkan mahasiswanya selalu kreatif dan punya inovasi dalam menciptakan gagasan yang dapat diarahkan menuju pengembangan industri kreatif, misal mengeluarkan kebijakan-kebijakan tertentu berkaitan dengan upaya mendukung program kewirausahaan mahasiswa untuk mencipatakan industri kreatif.

Dengan menciptakan kebijakan yang prokewirausahaan dan mendukung kreativitas mahasiswa tentu diharapkan akan tercipta atmosfer yang baik bagi pengembangan kreativitas dan inovasi mahasiswa dalam menciptakan usaha atau industri kreatif.

Dengan dukungan berbagai pihak dan planning yang jelas, semoga ke depan upaya membangun industri kreatif melalui kampus bisa terwujud, dan dapat bermanfaat bagi mahasiswa ketika mereka sudah lulus dari kampus. (24)


(Tulisan di atas pernh dimuat di koran Suara Merdeka pada Sabtu, 10 Desember 2011).


—Muhammad Noor Ahsin SPd,
mantan aktivis pers mahasiswa Unnes, pendidik dan peneliti sosial di Madrasah Aliyah NU TBS Kudus.

[+/-] Baca Selengkapnya...

Senin, 28 November 2011

Pendidikan Karakter Melalui Teater


KUDUS-Beberapa siswa kelas XI-C (Bahasa 1) melakukan pentas teater di ruang multi media, lantai 3 gedung utara MA NU TBS Kudus. Mereka mementaskan teater dengan judul “Maafkan Aku Guru” yang dipentaskan baru-baru ini . Naskah teks teater dibuat sendiri dan disutradarai langsung oleh M. Syaifun Nasir, selaku siswa kelas XI-C MA TBS.

Sebenarnya pentas ini merupakan tugas akhir semester mata pelajaran sastra, bagi kelas XI Bahasa. Yaitu tugas praktik pelajaran Sastra Indonesia. Sebelumya mereka diberi penjelasan tentang materi pementasan tetater atau drama. Selain itu siswa juga sudah manyaksikan contoh video pemantasan drama dan sebagainya.

Selain kelas XI-C, penampilan teater juga dilakukan oleh kelas XI-D (bahasa 2). Dalam satu kelas dibagi menjadi empat kelompok. Sehingga, karena ada dua kelas, jadi semua yang tampil ada 8 kelompok. Tiap kelompok berjumlah sekitar 10 orang. Dalam satu kelompok ada yang jadi pengarang naskah, sutradara, pemain atau aktor, seksi artistik, perlengkapan, dan sebagainya.

Harapan dari tugas ini siswa akan mendapatkan pengalaman langsung dalam bermain teater atau drama. Praktik langsung itu dirasa sangat penting. Karena dengan praktik mereka lebih memahami dan merasa mampu mengaplikasikan ilmu sastra yang diperoleh.
Salah satu siswa yang telah mementaskan naskah tetaet menyatakan, “Ada kesan menyenangkan dan menyedihkan yang saya alami ketika bermain teater. Dengan bermain teater dapat menggugah perasaan kita dalam menyelami arti hidup. Dan melatih kepekaan perasaan kita terhadap sesama” Kata M. Nailul Fahmi, salah satu pemain drama, kelas XI-C MA NU TBS.

Pendidikan Karakter

Karya sastra berupa naskah teater dapat membuat penulis dan pembaca dekat dengan kehidupan. Naskah teater yang dipentaskan dapat pula melatih kepekaan perasaan, melatih rasa simpati dan empati terhadap sesama. Sehingga bermain teater merupakan salah satu alternatif mananamkan pendidikan karakter kepada generasi bangsa (para pelajar) yang dewasa ini dinilai sangat penting.

Melalui karya sastra sering diketahui keadaan, cuplikan-cuplikan kehidupan masyarakat seperti dialami, dicermati, ditangkap, dan direka oleh pengarang. Bahkan, seringkali sebuah suasana tertentu dapat lebih dihayati dengan membaca dan mengapresiasi sebuah cerpen, novel atau sebiji sajak, atau mementaskan naskah teater daripada membaca suatu laporan penelitian yang ilmiah.

Pendidikan sastra yang merupakan ilmu humaniora harus terus diupayakan oleh guru bahasa Indonesia di sekolah. Karena ilmu sastra berperan sangat besar menanamkan nilai-nilai investasi moral masa depan dan melatih pendidikan karakter, mengingat sastra itu berbicara tentang manusia dan kemanusiaan.

(Tulisan di atas pernah dimuat di Suara Muria Suara Merdeka, di rubrik Jurnalisme Warga pada Senin, 4 Desember 20011).

Oleh Muhammad Noor Ahsin,
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia
MA NU TBS, kelurahan Kajeksan, Kudus.

[+/-] Baca Selengkapnya...