Jumat, 26 Desember 2008

Hikmah Sebuah Masalah Kuliah

Brengsek, sudah dua jam lebih aku menunggunya. Tapi apa yang kudapatkan? Waktuku jadi terbuang sia-sia. Dengan memakai celana hitam, hem warna putih yang baru kuseterika. Aku pun merapikan penampilanku di depan kaca. Rabu pagi pukul sebilan aku janjian sama dosenku untuk mengikuti ujian tambahan. Aslinya malas banget sich. Bayangkan saja setiap janjian dengan dosenku yang berinisial BN (nama sengaja saya samarkan), dengan enaknya selalu dibatalkan.

Setelah rapi aku pun bergegas turun ke lantai bawah. Melewati tangga yang belum jadi. Setelah sampai bawah. Aku menuju tempat rak sepatu, kulihat dengan seksama sepatu ku ternyata tidak ada. Ah…..mungkin sedang di alap barokah, batinku dalam hati. Di pondok itu memang banyak ujiannya. Tapi aku khusnudhon saja. Seperti biasa aku pun mengambil sepatu pantofel warna hitam di rak sepatu sebelah atas yang merupakan sepatu milikku.

Belum sampai beres memakai sepatu, dering suara HPku berbunyi. Kucoba meraih Hpku yang aku taruh di dalam saku. Kubuka ternyata SMS dari Murni, dia adalah teman sekampusku. Dalam isi SMSnya, kubaca berbunya, ”Sin sekarang cepat ke kampus.” Kupikir cepat banget dia sampai kampus. Dia sudah menunggu aku di sana. Lalu aku coba membalas SMSnya, satu demi satu ketikan SMS dengan jempolku sudah jadi, aku jawab saja, ya bentar lagi aku sampe kampus, jawabku.

Melewati jalan paving sebelah timur warung kita aku bergegas menuju kampus lewat jalan keci menuju toko rizkia, setelah sampe jalan aku menyeberang jalan. Kuperhatikan warung Mbah Man yang terletak di dekat jalan ada seorang temanku yang sedang asyik makan bakso, aku pun menyapanya dengan senyuman saja. Setelah sampe di teras kampus gedung B1 106, kulihat Murni sedang duduk di kursi panjang depan kantor TU dosen. Dengan memakai hem putih, rok hitam dan kudung hitan, ditambah balutan jaket tipis warna hija dia, melambaikan tangannya.

“ Sin kesini Sin”
“Pak BN sudah datang belum.” tanyaku.
“Belum,” jawabnya.
Aku pun duduk mendekat disampingnya. Dia ternyata sudah menunggu dari tadi. Murni adalah seorang cewek asal kabupaten Pati. Wajahnya lumayan manis. Tubuhnya juga seksi. Tapi sayang, dia sudah punya orang lain. Dia juga sudah menikah waktu semester 4 dan kemarin saja malah dia baru melahirkan seorang anak. Walaupun sudah nikah, tapi semangat belajarnya untuk cepat lulus sangat tinggi.

Tidak lama setelah kami berbincang-bincang. Datang temanku Akib dari arah timur. Dia duduk di sampingku. Dia juga sedang menuungu dosen untuk tes tambahan micro teaching. Lima menit kemudian datangnya mbak Siti Nurhidayah. Dengan memakai jaket kotak-kotak dengan menenteng sebuah tas hitam dia menghampiri kami.

“Kok baru datang mbak,” tanyaku.
“ iya, tadi aku dapat SMS dari pak BN, intinya dia akan datang ke kampus pukul sepuluh kang.” Jawabnya, sambil memperlihatkan SMS yang ada di dalam hpnya.
Sudah satu jam kami menunggu pak BN. Ternyata tidak datang. Kucoba menelponnya. Ternyata diangkat. Lho kok cewek yang ngangkat, batinku.
“ ni dengan siapa ya? ada perlu apa?” kata wanita tadi.
“ ini Akhmad, Bu mahasiswa pak BN.” Jawabku.
“Pak BN sekarang lagi dimana Bu,” tambahku.

“ oh.. dia baru saja keluar dari yayasan Ummul Quro’, mungkin sedang ke kampus. Ditunggu saja mas” bujuknya.
“ ya buk”, jawabku.
Setelah, kami tunggu-tunggu dengan harap-harap cemas. Tepat pukul setengah sebelas pak BN baru hadir. Kami pun langsung menyusulnya. Pak BN mengatakan,
“untuk ujiannya, sesuai dengan rapat dosen pengampu akan dilaksanakan hari senin mendatang, tepatnya tanggal 21.”
“ Jadi di undur lagi Pak,” kata murni. Dengan wajah yang agak kesal.
“ iya, jadi kalian bisa persiapan lebih lama” kata BN.

Kami pun akhirnya, pulang. Murni kelihatan sangat jengkel sekali dengan pak BN. Akib yang jauh-jauh dari tempat KKN PBA di Gabus, terpaksa harus kembali ke posko dengan penantian yang sia-sia. Aku berjalan melangkah pulang ke Pondok Pesantren Durrotu Aswaja bersama Mbak Siti Nurhidayah yang memang satu pondok denganku.
“emang jengkelke banget, pak BN” kata Hidayah dengan nada keras sambil meremas tas hitam bercorak gasis yang sedang dibawanya.

“moso’ setiap janjian, mesti dibatalke, padahal keto’e pak BN yo ora sibuk-sibuk banget.” Tambahnya.
“wes piye meneh mbak, pak BN pancen ngono.” Sabar wae. Yo mugo-mugo ora molor meneh.” Kataku.
Tidak sampe sepuluh menit, saya pun sudah berada di kamar. Jaket hitam kutaruh di gantungan baju. Aku pun langsung ganti baju dengan menakai kaos dan sarung kotak-kotak warna hijau. Setelah itu, aku berusaha merebahkan tubuhku di atas karpet hijau didalam kamar pengurus. kulihat, sebelah atas jam dinding menunjukkan pukul 11.30 WIB. Aku pun meraih Koran kompas yang ada disampingku. Pondokku memang langganan Koran kompas sebagai suplemen agar santri yang juga mahasiswa tidak kuper dan selalu megikuti informasi.

Kubuka lembaran kompas satu demi satu. Memang dari pagi tadi aku tidak sempat untuk membaca. Jadi siang ini baru bisa membaca Koran.
Ketika azan dhuhur berkumandang. Aku pun menyudahi baca korannya. Kulihat kang yusuf datang dari pintu samping, kemudian tidur di sampingku. Mungkin dia kelelahan, sehingga datang langsung merebahkan tubuhnya.

Setelah kegiatan siang itu aku lalui. Sorenya jam dua siang dari pada aku tidur mending aku isi dengan kegiatan positif. Aku pn bergegas datang ke tempat spesialku dengan tujuan ingin menghatamkan bacaan buku yang belum sempat akau khatamkan.
Malamnya, pukul 20.00 aku datang ke joglo untuk mengikuti rapat koordinasi demo expo. Aku memang menjadi bagian dalam panitia tersebut. Rencananya sih panitia pengen mendatangkan band nasional, kerispatih. Juga membahas tentang persiapan yang lain.
Dalam rapat itu aku mendapatkan banyak pengetahuan dari panitia yang kebanyakan terdiri dari beberapa jurusan yang berbeda-beda di Unnes. Setelah selesai aku mencari komputer untuk menuliskan ide-ideku yang tercecer sebelum aku tidur.


Muhammad Noor Ahsin
Santri Ponpes Durrotu Aswaja
Mahasiswa Universitas Negeri Semarang

1 komentar:

sutoyo mengatakan...

hai....
pa kabar?