Kamis, 12 Februari 2009

Peran Santri dan Kemandirian Pesantren

Baru-baru ini, dalam sebuah sarasehan tentang kemandirian pesantren di Ponpes Salafiyah, Kayen, Margoyoso, Pati, terlontar kesimpulan bahwa, pesantren sebagai salah satu penyelenggara pendidikan nonformal, belakangan mulai kehilangan kemandiriannya. Hal itu tak lepas dari kurangnya bekal keterampilan dan modal kerja yang diberikan kepada para santri (Suara Merdeka, 8/1).

Hal tersebut diutarakan oleh Menteri Negara Koperasi dan UKM, Suryadarma Ali saat menjadi pembicara kunci di forum tersebut. Secara global, kemandirian pesantren yang saat ini masih terjaga antara lain, kurikulum dan silabi pembelajaran yang diupayakan oleh pengasuh. Namun, yang menjadi sorotan yaitu kurang dikembangkannya kemandirian pesantren dalam bidang ekonomi. Berbagai indikasi itu terlihat dengan kecenderungan semakin banyaknya pihak pesantren yang belakangan kerap mengajukan dan berharap bantuan dari pemerintah dan masyarakat.

Padahal sebelumnya pesantren sangat disegani lantaran mengupayakan sendiri pendanaan untuk pembangunan semisal masjid, asrama, dan madrasah. Dahulu, sejak masa penyiaran islam, umumnya, berbagai pondok pesantren yang ada di Indonesia sebagian besar didirikan oleh para ulama dengan kerja keras secara mandiri. Meskipun, antarpondok pesantren berbeda-beda visi menyangkut metode pembelajarannya, namun pada dasarnya setiap pesantren memiliki kesamaan fungsi pendidikan pesantren, yaitu sebagai pusat pendidikan dan pendalaman ilmu-Ilmu pengetahuan islam (tafaqquh fiddin) serta sebagai pusat dakwah islam.

Di lingkup pesantren, para santri di samping melaksanakan tugas ataupun kewajibannya mempelajari serta mendalami ilmu-ilmu agama islam, dalam rangka menyiapkan diri untuk menjadi kader ulama, ustadz, dan mubaligh, dahulu juga terkenal dengan sikap kemandirian dan keikhlasannya. Jiwa dan sikap demikian selalu ditumbuhkan dalam kehidupan santri sehari-hari di lingkungan pesantren. Jiwa kemandirian santri mula-mula ditumbuhkan dalam mengurus kebutuhan hidup sehari-hari seperti, mencuci, memasak, mengepel, membersihkan tempat tidur dan sebagainya. Ketika sudah semakin dewasa, Lambat laun tanggung jawab yang diberikan pengasuh kepada santri biasanya semakin besar. Semisal mengajar santri junior, atau diserahi mengembangkan program-program pesantren seperti mengurus majlis ta’lim, koperasi pesantren, program pertanian, dan sebagainya.

Jadi, indikasi bahwa telah terjadinya pergeseran kemandirian pesantren yang disampaikan di atas memang sangat ironis dan patut disayangkan. Hal itu menunjukkan bahwa “eksistensi kemadirian” para santri yang menuntut ilmu di pesantren semakin terkikis. Benarkah demikian? Kenyataan di lapangan menegaskan bahwa lulusan pesantren yang walaupun terkenal dengan kemandiriannya sebagin besar merasa canggung dalam persaingan memperoleh pekerjaan. Hal itu sangat wajar, karena di pesantren mereka lebih difokuskan untuk mempelajari ilmu agama ketimbang ilmu lain. Sehingga para santri pun hanya “fasih” berkutat dengan urusan yang berbau agama, dan jika dihadapkan dengan hal lain atau keterampilan lain yang bukan bidangnya tentu saja mereka agak sedikit minder.

Padahal, kenyataannya, di era globalisasi ini, untuk meraih segala sesuatu orang harus berkompetisi dalam persaingan yang diperbolehkan sesuai dengan etika pasar bebas (free Market). Berbagai keterampilan individu menyangkut kecakapan dalam berusaha merupakan satu faktor penting yang sangat mempegaruhi kesuksesan menyongsong kehidupan masa depan yang lebih baik.

Menyikapi perkembangan dinamika tersebut, dalam ranah pendidikan pesantren, kiranya perlu juga santri dibekali dengan berbagai keterampilan untuk mengembangkan bakat yang di punyai. Jiwa wirausaha sepertinya juga penting ditanamkan sejak dini dalam jiwa santri. Sehingga nantinya, selain pintar dalam berdakwah, harapannya santri juga pandai dalam mencari peluang dalam berwirausaha.

Meneladani Kemandirian Nabi

Dahulu, hal demikian juga pernah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketika beliau kecil, pada usia 12 tahun, pemuda Muhammad ikut serta melakukan perjalanan dagang ke Syiria yang jauhnya kurang lebih seribu kilometer. Tentu saja pada waktu itu belum ada kendaraan seperti motor, mobil dan sebagainya. Hanya ada unta dan kuda sebagai kendaraan untuk berangkat ke tempat tujuan berdagang. Bayangkan, betapa jauhnya, dan berapa hari lama perjalanannya. Pada usia belasan tahun, pemuda Muhammad makin sering melakukan perjalanan dagang ke beberapa Negara tetangga, hingga ia di kenal sebagai profesional muda yang berhasil.

Sampai dengan usia 25 tahun, ketika Muhammad Menikah dengan seorang konglomerat Khadijah, menurut beberapa catatan, beliau telah melakukan perjalanan bisnisnya ke berbagai kota sebanyak 15 kali, yaitu 5 kali ke syiria, 2 kali ke Bahrain, 2 kali ke Kapus dan 4 kali ke yaman. Karena kejujuran dan professional dalam berdagang, sudah tentu dagangannya laris terjual, dan sudah tentu keuntungan besar pun selalu didapatkan, sehingga beliau menjadi pedagang dan wirausahawan yang sukses.

Mencetak Santri Karya
Menilik dari rekam jejak nabi yang suka berdakwah dan berwirausaha, tidak salah kalau masyarakat muslim menjadikan itu sebagai contoh. Hal itu patut menjadi renungan bersama. Dalam konteks pembelajaran di pesantren, santri selain menimba ilmu agama juga hendaknya meniru sikap nabi dengan mempelajari juga ilmu kemandirian dengan wirausaha. Cara pandang demikian kiranya perlu diapresiasi oleh pihak pesantren terkait untuk bisa dikembangkan dan dibelajarkan kepada para santri di lingkungannya.

Pada umumnya pondok pesantren memiliki Koperasi Pondok Pesantren (Kopotren) yang biasanya dikelola para santri. Untuk meningkatkan kecakapan keterampilan (Soft Skill) para santri, usaha Kopotren itu perlu dikembangkan dengan lebih profesional. Selain itu, santri juga perlu diarahkan untuk mempelajari keterampilan lain yang bisa disesuaikan dengan keadaan dan potensi lingkungan pesantren, seperti keterampilan dalam bidang katering, pertanian, perdagangan, peternakan, perkebunan, dan sebagainya.

Untuk menjadi wirausahawan sukses, Muhammad Nasri dalam buku Kemandirian Santri (2004), menekankan seseorang itu harus memiliki etos kerja yang tinggi. Tanpa etos kerja tinggi, seorang akan lemah dalam mengahadapai suatu hambatan. Karena besar kecilnya hasil yang diperoleh seorang pekerja, pegawai, atau para wirausaha erat kaitannya dengan etos kerja serta keterampilan yang dimiliki dalam melaksanakan usahanya.

Dalam praktiknya, tantangan dalam menjalankan roda bisnis dan wirausaha di lingkup pesantren memang sulit. Kendala yang merintangi pun banyak, terutama tentang modal usaha. Namun, itu tidak menjadi masalah manakala ada keseriusan dalam berusaha. Agar dapat terlaksana dengan baik, Diperlukan banyak kerja keras dan perencanaan matang dalam membelajarkan pendidikan keterampilan bagi para santri di pesantren.

Dalam menatap masa depan, tantangan dalam era globalisasi akan semakin besar. Memberikan pendidikan kemandirian pesantren untuk para santri sangatlah relevan dan penting untuk bekal tambahan menghadapi dinamika hidup yang kian sulit. Sehingga santri lulusan pondok pesantren yang biasanya hanya pandai dalam masalah agama dengan berbagai pemikiran-pemikirannya juga diharapkan dapat memiliki keterampilan lain agar bisa berperan lebih banyak dalam berbagai aspek kehidupan di masyarakat.


Muhammad Noor Ahsin

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes,
Santri Ponpes Durrotu Aswaja, Gunungpati,
Semarang.

1 komentar:

gin mengatakan...

salam, kang!

semoga para kiai dan santri memperhatikan sejarah kepesantrenan untuk mementukan langkah kemudian. nampaknya mereka, kita juga, mulai mengabaikan "purwa-wiwitan daksina-wekasan".